Fenomena Job Hugging: Bagaimana Pandangan Islam?

10 Oktober 2025

Ketidakpastian finansial dan isu PHK massal kini tidak hanya memunculkan kekhawatiran, tetapi juga menciptakan fenomena baru di dunia kerja: Job Hugging. Istilah ini mucul dari Amerika yang kini ramai diperbincangkan di social media. Menurut Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag (Dosen UIN Salatiga dan Guru Besar Ekonomi Islam) menyimpulkan bahwa job hugging adalah hasil pertemuan antara rasa aman (sense of safety) dan rasa takut (sense of fear) menghadapi ketidakpastian (uncertainty).

Jika beberapa tahun lalu kaum Milenial dan Gen Z gencar melakukan job hopping (berpindah kerja demi gaji tinggi), kini banyak dari mereka justru memilih untuk “memeluk” pekerjaan yang dimiliki.  Amerika Serikat mencatat 45% pekerjanya dalam kategori ‘job hugging’. Hal ini memperlihatkan bahwa pekerja di Amerika memilih stabilitas daripada harus mencari peluang baru.

Sementara di Indonesia, menurut Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) per Agustus 2025 mencatat Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) turun ke level 93,2, dari sebelumnya 95,3 pada Juli 2025. Angka ini merupakan posisi terendah sejak awal tahun dan mencerminkan meningkatnya pesimisme masyarakat terhadap peluang kerja.

Lantas, Apa Alasan Utama Fenomena Ini Muncul?

Tren Job Hugging bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan respons langsung terhadap kondisi makroekonomi dan pasar kerja.

1) Pasar Kerja yang Suram dan Ancaman Resesi

Laporan tentang perlambatan perekrutan dan gelombang PHK di berbagai sektor, terutama teknologi, telah menciptakan iklim ketakutan. Para pekerja sadar bahwa mencari pekerjaan baru saat ini jauh lebih sulit dan berisiko.

2) Adanya Kecerdasan Buatan (AI)

Munculnya AI membawa dampak besar pada dunia kerja. Banyak pekerjaan rutin mulai tergantikan otomatisasi, dan ini memicu kekhawatiran di kalangan pekerja.

3) Inflasi dan Biaya Hidup yang Melonjak

Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang tinggi membuat pekerja harus memprioritaskan keamanan finansial. Mereka rela mengesampingkan kepuasan kerja demi jaminan pendapatan tetap. Melompat kerja ke tempat yang baru memiliki risiko gaji yang tertunda atau masa percobaan yang gagal—risiko yang terlalu besar untuk diambil saat ini.

4) Kelelahan Mencari Pekerjaan (Job Search Fatigue)

Proses mencari pekerjaan baru bisa sangat menguras energi mental dan waktu. Di tengah tuntutan pekerjaan yang sudah ada, banyak pekerja memilih untuk menghindari stres dan frustrasi mengirim ratusan lamaran dan menghadapi wawancara yang belum tentu membuahkan hasil.

Sudut Pandang Islam Tentang Job Hugging

Dalam Islam, pekerjaan adalah bagian dari ikhtiar (usaha) untuk menjemput rezeki. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk bekerja keras (ikhtiar), namun di saat yang sama, kita harus meyakini bahwa rezeki mutlak berada di tangan Allah (tawakal).

Allah adalah Al-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Pekerjaan yang kita jalani sehari-hari hanyalah wasilah (perantara) yang Allah gunakan untuk menyalurkan rezeki kepada kita. Kesadaran ini seharusnya menghadirkan ketenangan: apa yang sudah ditetapkan untuk kita tidak akan pernah tertukar. Jika satu pintu rezeki tertutup, maka Allah mampu membuka pintu lain yang lebih baik, seringkali dari arah yang tidak pernah kita duga. Sebagaimana firman-Nya,

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (Q.S Ar-Rum: 40)

Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui. Allah sangat paham apa yang dibutuhkan hamba-Nya, kapan waktu yang tepat, dan dalam kadar seberapa besar rezeki itu diberikan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 27)

Fenomena job hugging pada akhirnya bisa menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa hidup di dunia ini tidak semata-mata soal pekerjaan. Bekerja memang sebuah kewajiban untuk menjemput rezeki, tapi lebih dari itu, bekerja adalah bagian dari ibadah. Setiap profesi yang dijalani dengan niat baik dan memberi manfaat bagi orang lain, bernilai ibadah di sisi Allah. Selain itu, pekerjaan juga menjadi jalan bagi manusia untuk mengembangkan potensi diri dan menjalankan misi isti‘mār al-ard (memakmurkan bumi).

Disisi lain Islam menekankan bahwa menciptakan ekosistem kerja yang sehat, adil, dan produktif tak hanya tanggung jawab individu pekerja. Negara, pasar, dan komunitas punya peran besar dalam hal ini. Instrumen filantropi seperti zakat, infak, sedekah, dan dana sosial lainnya tidak sekadar dipahami sebagai aktivitas sosial atau amal pribadi. Lebih dari itu, ia berfungsi sebagai mekanisme nyata untuk menciptakan keadilan dalam masyarakat. Melalui distribusi yang tepat, dana-dana ini mampu membantu meminimalkan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin, sekaligus memberi rasa aman bagi mereka yang khawatir kehilangan pekerjaan.

Karena pada hakikatnya, setiap sedekah bukan hanya menolong orang lain, tapi juga menjadi jalan agar Allah memudahkan langkah-langkah kita di dunia dan akhirat. Mari jadikan sedekah sebagai ikhtiar untuk mempermudah setiap aktivitas yang kita lakukan. Tunaikan sekarang juga melalui wordpress-689282-2275864.cloudwaysapps.com

Share:

Artikel Terkait