Peristiwa Penting Pada Bulan Dzulqadah

21 April 2025

Bulan Dzulqadah memiliki keistimewaan sebagai salah satu bulan haram (bulan mulia) dalam kalender Hijriah. Allah menegaskan bahwa dalam satu tahun, terdapat dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan yang sangat dimuliakan, termasuk Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dari Abu Bakroh, Rasulullah SAW bersabda, “setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Bulan Dzulqadah juga disebut sebagai ‘bulan duduk-duduk santai’ karena orang-orang Arab di masa lampau merantau ke Yaman, ke Syam, ke Syiria untuk berjualan ketika di bulan ini mereka semua merasa santai. Mereka merasa santai karena pada bulan-bulan lain, orang-orang Arab yang pergi ke daerah di luar Arab untuk berdagang tetapi di bulan Dzulqadah, orang-orang dari luar Arab lah yang berkunjung ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Bulan Dzulqadah juga telah menjadi saksi beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, antara lain:

Perang Bani Quraizhah

Salah satu peristiwa yang paling terkenal adalah Perang Bani Quraizhah. Perang ini terjadi karena penghianatan kaum Yahudi atas perjanjian bersama umat Islam. Saat itu kaum muslimin berada dalam kondisi kritis baik dari segi kekuatan ataupun senjata. Peristiwa ini terjadi setelah umat Islam berperang melawan orang kafir pada perang Khandaq. Perang ini terjadi pada akhir bulan Dzulqadah dan awal bulan Dzulhijjah tahun ke-5 Hijriah.

Perang ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, dimana Malaikat Jibril yang mendatangi Nabi Muhammad SAW ketika ia kembali dari Perang Khandaq.

“Dari Aisyah RA, ia berkata; Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam kembali dari perang Khandaq, setelah beliau meletakkan senjata dan mandi, malaikat Jibril alaihis salam datang menemui beliau seraya berkata: “Apakah anda hendak meletakan senjata? Demi Allah kami tidak akan meletakkannya. Keluarlah anda (untuk memerangi) mereka.” Beliau bertanya: “Kemana?” Jibril Menjawab: “Kesana.” Jibril memberi isyarat (untuk pergi memerangi) Bani Quraizhah. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berangkat menyerbu mereka.” (HR. Bukhari)

Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian ini terjadi pada tahun 6 Hijriah ketika Rasulullah SAW dan umatnya hendak melaksanakan ibadah umrah di Makkah. Namun, kaum Quraisy Makkah menuduh niat Rasulullah hendak melakukan peperangan. Saat rombongan telah sampai di Hudaibiyah, mereka berhenti sejenak. Rasulullah mengutus Usman Bin Affan untuk menyampaikan tujuan kedatangannya. Namun, kaum Quraisy tidak mengizinkan rombongan untuk memasuki Makkah. Oleh karena itu, terjadi perundingan yang cukup alot dan menghasilkan perjanjian Hudaibiyah, yang merupakan perjanjian gencatan senjata antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy. Perjanjian ini dipandang sebagai strategi dan upaya Rasulullah untuk meredakan ketegangan antara kaum muslimin dengan kaum musyrik dari Quraisy.

Rasulullah SAW Melakukan Umrah 4 kali

Bulan Dzulqadah juga menjadi bulan ketika Rasulullah melakukan umrah sebanyak 4 kali. Rasulullah melaksanakan semua umrah ini pada bulan Dzulqa’dah, termasuk umrah dari Hudaibiyah, serta umrah lainnya yang beliau lakukan pada tahun berikutnya dan tahun setelahnya. Peristiwa ini tertuang dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Rasulullah SAW berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqadah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji (bulan Dhulhijjah).”

Allah Berbicara dengan Nabi Musa

Allah menjanjikan kepada Nabi Musa untuk berbicara langsung dengan-Nya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqadah, lalu menambahkannya dengan sepuluh malam di awal Dzulhijjah. Bulan Dzulqadah menjadi bulan ketika Nabi Musa menerima Kitab Taurat. Peristiwa ini tertulis dalam firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 143 yang artinya, “Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan telah berfirman (langsung) kepadanya (Musa)”.

Beberapa sumber menyebut pada bulan Dzulqadah terdapat anjuran untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan maksiat. Dalam kitab Darul Ihya’ at-Turats, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi menjelaskan pahala dan dosa berlipat ganda untuk perbuatan baik atau tercela di bulan Dzulqadah, “Amal yang dilakukan di bulan Dzulqadah akan berlipat ganda pahalanya, dan dosa yang dilakukan di bulan Dzulqadah juga akan berlipat ganda dosanya”.

Mari manfaatkan bulan yang penuh berkah untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih pahala berlipat ganda di bulan Dzulqadah. Tunaikan ibadah kurban Anda melalui wordpress-689282-2275864.cloudwaysapps.com. Dengan berkurban, kita tidak hanya mendapatkan ridha Allah tetapi juga membahagiakan mereka yang kurang beruntung. InsyaAllah..

Share:

Artikel Terkait