Sejarah Qurban Ada Sejak Zaman Nabi Adam

21 April 2025

Idul Adha telah di depan mata. Sambil menunggu waktunya tiba alangkah baiknya kita mempelajari sejarah Qurban.

Kata Qurban (قربان) berasal dari bahasa Arab “Qariba -Yaqrabu –Qurbanan” yang berarti dekat. Maksudnya mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya. Umat Islam memperingati Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah.

Pada hari tersebut umat Islam melaksanakan ibadah qurban dengan menyembelih hewan seperti domba, kambing, sapi, kerbau, atau unta. Tradisi ini telah dimulai sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW.

Qurban di Masa Nabi Adam

Berawal dari kisah Habil dan Qabil, anak Nabi Adam dan Siti Hawa. Qabil lahir kembar bersama Iqlima, sementara Habil memiliki saudara kembar Labuda. Sesuai perintah Allah, Nabi Adam memerintahkan pernikahan silang antara keduanya: Habil dengan Iqlima, dan Qabil dengan Labuda. Namun Qabil tidak terima dengan Keputusan tersebut dan menginginkan Iqlima.

Nabi Adam memohon petunjuk kepada Allah, hingga Allah memerintahkan keduanya untuk berqurban. Habil sebagai peternak mempersembahkan hewan ternak terbaiknya, sedangkan Qabil seorang petani mempersembahkan hasil buminya yang paling buruk dan membawanya ke atas bukit.

Mereka menunggu qurban siapa yang akan diterima. Tak lama kemudian api muncul dari atas bukit dan melahap qurban Habil. Sedangkan qurban habil tetap utuh yang menandakan tidak diterimanya qurban Habil.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat Al – Maidah ayat 27 yang artinya:

“Ceritakanlah (Muhammad) kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa

Peristiwa ini mengajarkan kita untuk menunaikan qurban dengan hewan terbaik yang kita miliki dan meluruskan niat untuk meraih keridhaan Allah.

Qurban di Masa Nabi Nuh

Setelah peristiwa banjir besar yang menenggelamkan sebagian besar daratan, Nabi Nuh AS dan umatnya yang selamat membangun kembali kehidupan mereka.  Sebagai tanda syukur atas keselamatan dan pertolongan Allah SWT, Nabi Nuh AS membuat tempat khusus untuk meletakkan persembahan qurban.

Umat Nabi Nuh AS kemudian menyembelih hewan qurban dan meletakkan dagingnya di tempat tersebut.  Daging tersebut dibakar sebagai bentuk persembahan kepada Allah SWT.

Dari kisah ini menunjukkan bahwa tradisi qurban sudah ada sejak zaman awal manusia dan merupakan bentuk ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Qurban di Masa Nabi Ibrahim

Suatu hari Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Peristiwa tersebut menjadi ujian yang berat bagi Nabi Ibrahim yang sangat mencintai anaknya. Di sisi lain, Nabi Ibrahim ingin melaksanakan perintah Allah.

Akhirnya, Nabi Ibrahim menyampaikan wahyu itu kepada Nabi Ismail, sebagaimana dalam Surah As-Shaffat ayat 103, yang artinya:

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyā Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.

Setelah keduanya sepakat, Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail ke sebuah tempat di Mina dan membaringkannya.

Wahai ayahku! Kencangkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, singsingkanlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan jika nanti ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatkah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila Engkau telah kembali maka sampaikanlah salam kasihku kepadanya.” (Syekh Muhammad Sayyi Ath-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, Beirut, Darul Fikr: 2005 M halaman 3582).

Saat Nabi Ibrahim telah rela menyembelih putranya, Allah membuat pisau paling tajam sekalipun menjadi tumpul dan tidak mampu melukai leher Nabi Ismail. Allah menebus Nabi Ibrahim dengan seekor kambing.

Dalam keadaan ini, Allah berfirman dalam Surah As-Shaffat ayat 104-108 yang artinya:

Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, Engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” (Surat As-Saffat ayat 104-108).

Kisah ini kita belajar keikhlasan dalam pengorbanan, kesabaran dan keberanian dalam menghadapi ujian Allah. Ujian dalam hidup adalah cara Allah menguji dan meninggikan derajat hamba-Nya yang beriman.

Qurban di Masa Nabi Musa

Pada masa Nabi Musa AS, umatnya membagi qurban menjadi dua jenis yaitu yang mengalirkan darah dan yang tidak mengalirkan darah.  Qurban tidak mengalirkan darah yaitu melepaskan hewan qurban dalam keadaan hidup ke alam bebas. Sementara, qurban dengan mengalirkan darah yaitu menyembelih hewan untuk dimakan bersama-sama.

Pada zaman ini orang-orang yang berqurban, harus mengurbankan hewan yang bebas dari segala cacat dan penyakit. Bagi seorang yang tidak mampu berqurban dengan hewan berkaki empat maka dapat berqurban dengan menyembelih burung.

Kisah ini mengajarkan pentingnya memberikan yang terbaik dalam hal ibadah. Qurban dengan menyembelih hewan untuk dimakan bersama-sama mempererat hubungan sosial dan rasa kebersamaan.

Qurban di Masa Nabi Muhammad

Perintah qurban pada masa Nabi Muhammad tertuang dalam QS Al-Kautsar ayat 3, yang artinya:

Maka laksanakanlah salat kerena Tuhanmu, dan berqurbanlah.

Rasulullah pernah berqurban dengan dua ekor kambing putih dengan tanduk yang besar sebagaimana riwayat Imam Muslim.

Selain itu, Rasulullah juga melaksanakan qurban 100 ekor unta setelah melaksanakan ibadah haji Wada. Beliau menyembelih 63 ekor unta, dengan perhitungan seekor unta dalam setahunnya seumur beliau. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyembelih sisanya sebanyak 37 ekor unta.

Dalam Shahih Muslim menyebutkan, “Rasulullah SAW telah menyembelihkan qurban untuk Aisyah RA berupa seekor sapi di hari raya qurban. Sementara dalam kitab As-Sunan, Rasulullah menyembelih seekor sapi sebagai qurban untuk keluarga Muhammad saat Haji Wada’.”

Seperti yang para nabi ajarkan, mari melanjutkan tradisi mulia ini untuk berbagi kebahagiaan dengan berqurban melalui wordpress-689282-2275864.cloudwaysapps.com.

Share:

Artikel Terkait